.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 8 July 2014

DEADLINE!

1.       Penting nggak sih nulisin semua target yang pengen kita capai? Yang satuan, kiloan, atau bahkan ribuan? 

2.       Penting nggak sih nulisin semua itu dan semua orang bisa baca semua keinginan kita itu? duh, jangan-jangan masuk ke kategori sombong, atau sesumbar?

3.       Penting nggak sih ngayal?

Oke, setiap dari kita pasti punya pendapat yang berbeda-beda sama dua pertanyaan di atas tadi. Pro kontra sudah tentu ada. Yang kalau diringkas paling-paling cuman akan dapat kesimpulan mentok bahwa, “ya perlulah, kita kan butuh pengingat – biar selalu inget sama tujuan awal (walaupun kadang kegeser sama kerjaan, atau pacar :D)”, dan “enggak penting banget ah, takut nanti dikira sombong, mendingan dipatri aja di hati sama pahat di otak. Fokus sendiri biar nggak malu klo nggak kecapai”. 

Tapi saya nggak niat nulisin pro kontra dari pertanyaan tadi. Pertanyaan yang sebenarnya saya ajukan juga buat diri sendiri itu. itu pertanyaan umum, saya yakin semua orang pasti pernah mbatin, atau sekelebat aja kepikiran. Tapi saya cuman pengen mbahas, seberapa pentingnya membuat resolusi – sekaligus deadline buat diri sendiri. Dalam kurung sekali lagi, UNTUK DIRI SENDIRI.

Setiap manusia pasti punya yang namanya impian, harapan, asa, cita-cita, dan sederet sinonim dari harapan tadi yang pasti kalo didaftar lebih dari jumlah asli penduduk di seluruh dunia. Satu orang manusia aja bisa menyimpan seribu harapan untuk dirinya sendiri, waw kan? Maka itulah salah satu pentingnya mencatat dan membuat resolusi bagi diri sendiri. Saya? Oke, saya juga punya lebih dari sepuluh jari tangan untuk menghitung berapa banyak yang sudah saya daftar.

Refleksi keinginan kita dari waktu ke waktu selalu berubah, kadang kegeser sama hal lain klo udah nemu lingkungan dan hal lain yang baru, kadang malah sengaja dilupain karena males dan ngrasa ditinggalin, walaupun sebenernya dalam skala prioritas keinginan itu menduduki peringkat pertama. Untuk alasan kegeser hal tersebut bisa dimaafkan karena hidup kita selalu bergerak, dinamis, dan tidak pernah statis, terlebih untuk mereka kalangan “nrimo ing pandum”. Tapi untuk alasan kedua, yaitu lupa, hal tersebut bisa diantisipasi dengan me-reset ulang sistem otak kita, atau bisa sebagai tombol on jam  weker/alarm untuk mengingatkan kita kapan harus begini kapan harus begitu. Kapan harus istirahat, kapan harus maju.

Lupa adalah penyakit semua dari kita, maka wajar jika menuliskan sebuah keinginan, menuliskan cerita atau memotret kejadian dipilih menjadi salah satu alternatif membangkitkan kenangan. Kita dibantu untuk mengingat kilas balik kehidupan dengan tulisan, catatan kecil, status di media sosial, dan foto-foto. Maka, menuliskan semua yang sempat terlintas untuk menjadi harapan merupakan salah satu penggerak kita untuk terus fokus mewujudkan, walau kadang, tetap saja tidak sesuai harapan. Saya seringkali menuliskan semua keinginan saya, refleksi mimpi saya, bahwa saya ingin punya toko buku, punya swalayan, punya suami yang sabar, punya anak kembar, dan bla-bla-bla nya yang jika didaftar tidak akan muat seluruh ingatan saya mengenangnya satu persatu.

Mungkin akan hilang sebagian, mungkin akan bercampur di sebagian lainnya. Ini keterbatasan manusia.

Saya punya beberapa notes, atau lebih familiarnya semacam buku tagihan hutang untuk mencatat semua kegiatan saya dari dulu. Saya punya itu sejak mts. Mungkin ada bertumpuk-tumpuk buku. Tapi yang paling saya ingat adalah, ada 5 buku serupa yang mencatat refleksi saya itu sejak sma. Curhatan-curhatan anak labil. dan yang terakhir, harapan saya untuk bisa menyelesaikan skripsi bulan mei, les minimal dua kali seminggu, menulis blog sebulan minimal 3x, kursus bahasa inggris bulan april – juni, menabung, dan bla-bla-bla.  

Apakah semuanya sudah tercapai? Saya ingin tertawa kalau harus memberikan jawaban gamblang ini semua.

Dengan jujur, saya katakan belum.

Kenapa?

Apakah karena saya tidak pernah membaca atau membuka catatan itu?

Tidak, bahkan hampir setiap hari saya selalu membukanya dan memberinya catatan baru.

Lalu?

Alasannya lebih kepada, saya mulai sengaja melupakan deadline yang saya buat sendiri. Saya membuat janji, dan saya mengingkarinya sendiri. Dosa nggak sih?

Saya pernah menanyakan ini pada senior saya di aliyah dulu yang kuliah di negara islam sana. Dan jawaban yang saya dapat cukup menenangkan hati, walaupun tidak sepenuhnya bisa jadi pembenaran. Katanya, janji kepada diri sendiri – asal tidak berbau nadzar/melibatkan orang lain dan tidak ada yang mendengar tidak masalah ditepati atau tidaknya. Tapi sialnya, saya masih saja merasa berdosa. Sederet deadline yang saya buat tadi, tergeser dengan aktifitas saya di tempat kerja. Dan walaupun tidak pernah ada yang tau atau membacanya, SAYA MALU, SANGAT MALU. Dosa saya memang tidak dapat dihitung dengan pasti, tapi perasaan malu itu selalu ada sekalipun tidak ada yang tahu saya memiliki keinginan apa dan bagaimana caranya.

Soal catatan di buku tadi - Skripsi saya memang sudah selesai, tapi tidak tepat bulan mei. Les saya memang bisa seminggu dua kali, tapi hanya 1 anak, dan itupun kadang saya lupa menyelipkan ilmu ngajinya untuk si anak tadi. Kursus inggris? Kendala awal biaya selalu jadi alasan, ini mungkin salah saya yang lupa pada niat awal, hingga uang yang ada selalu digunakan untuk hal lainnya. Menulis di blog rutin? Puasa lagi? Itu bahkan belum bisa dimulai lagi secara rutin walaupun sesungguhnya saya merindukan hal-hal di atas tadi. Kerinduan atas hal-hal yang menentramkan memang tidak bisa disembunyikan. Saya menyukai dunia membaca, dan tulis menulis. Dan parahnya, saya mengingkari keinginan diri sendiri.

Dan inilah pointnya.

Saya akhirnya tahu persis bahwa, semua hal yang kita tuliskan memang tidak selalu jadi kenyataan. Tapi memberikan kita motivasi berlebih untuk terus diwujudkan, untuk terus dilaksanakan. Sedikit demi sedikit suatu hal yang kita lakukan akan memberikan hasil. Itu benar. Sistem tanam tuai berlaku disini. Hal ini juga bisa jadi tolak ukur perkembangan kita dari tahun ke tahun, peningkatan sekaligus evaluasi diri. Ada banyak sekali ingatan yang bisa kita kembalikan dengan selembar catatan.

Banyak dari kita yang menuliskan keinginan itu dalam huruf besar, atau bahkan font ukuran besar semua tujuan kita untuk lantas ditempelkan di seluruh sisi rumah. Di pintu kamar, di dinding, di tembok ruang tamu, dimanapun, untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak yang harus kita capai. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Dan untuk melupakan semua yang terlanjur kita tulis, akhirnya kita malu mengakui bahwa tekad kita tidak sebesar niat.

Pada akhirnya, ketiga jawaban dari pertanyaan di atas adalah.

Ya, penting. Menuliskan semua harapan bagi diri sendiri amat penting. Kita butuh resolusi. Untuk perbaikan diri. Untuk tidak berpasrah menerima keadaan yang sama terus menerus. Perubahan hanya kita yang dapat mengusahakannya sendiri. Terserah anda mau menuliskannya di kepala masing-masing, dalam bentuk tulisan, atau menyampaikannya pada orang lain agar ada pihak aktif yang mengingatkan– niat utama hanyalah sebagai jalan lain bagi yang sering dilanda kelupaan, dan menghindarkan kita pada malu. mendapat cap pemimpi sejati atau penghayal? hanya pemimpi yang dapat mencapai mimpinya. untuk seseorang yang tidak pernah bermimpi, bagaimana bisa dia mencapai apa yang tidak pernah diimpikannya?

Pada kenyataannya, tulisan itu mensugesti kita membuat perubahan.


No comments:

Post a Comment