.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 27 February 2017

Memulai dan Menyelesaikan

Perkara “memulai sesuatu” bagi saya adalah hal-hal yang sulit-sulit gampang, misalnya saja memulai hal yang baik seperti belajar membiasakan solat dhuha, solat di awal waktu ketika mendengar iqamah atau malah sebelumnya, mulai rutin ngaji setiap habis solat, mulai menulis sehari 4 lembar setiap hari, dan atau apapun memulai hal yang baik lainnya. Mengumpulkan energi untuk memulai kebaikan tidak bisa disepelekan, karena hal tersebut merupakan titik balik seseorang akan menjadi lebih baik atau tidak – dengan penegasan bahwa orang tersebut memang istiqomah menjalankan niatannya, karena bukan tidak mungkin setan-setan merusak niatan dan usaha yang telah kita lakukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Setan tersebut banyak bentuknya, termasuk bentuknya teman baik kita. Wkwk.

Memulai sesuatu berarti mengumpulkan niat, ruang dan tenaga untuk diri sendiri yang tadinya tidak pernah memberi sela menjadi meluangkan. Yang tadinya tidak pernah menjadi pernah. Yang tadinya tidak biasa menjadi biasa. Maka memulai adalah perkara yang besar bagi saya. Misal memulai yang lain? Memulai membuat proposal tugas akhir, skripsi, thesis, dan atau disertasi. Membuat skripsi diawali dengan menentukan judul, lalu mencari latar belakang masalah, dan kemudian menentukan rumusan masalahnya. Apa hal tersebut mudah dilakukan?

Tergantung bagaimana kita melihatnya. Mindset. Pola pikir. Sudut pandang.

Selama dari awal kita sudah beranggapan sulit, berat, dan hal yang buruk lainnya – maka otak akan memproses hal tersebut menjadi apa yang seperti kita bayangkan. Padahal, kalau menengok ribuan orang – banyak judul skripsi, TA, thesis dan disertasi yang berada di rak-rak perpustakaan universitas, bahkan dibukukan menjadi buku best seller di toko buku besar. Lalu apa lagi masalahnya? Kalau orang lain bisa kenapa harus beranggapan kita tidak bisa?





Hambatan sesungguhnya adalah hanya ada di kepala kita.  

Semua hal butuh permulaan, maka akan ada akhir yang menjadi tanda bahwa anda telah berhasil melewati tahap tersebut. Maka persoalan memulai adalah salah satu hal terpenting dalam tahapan. Semua orang yang pada saat ini telah menjadi ahli, piawai, master, dan tingkatan expert lain pernah menjadi seorang pemula – dan mau belajar memperbaiki hal tersebut.

Yang dibutuhkan ketika hendak memulai ? hanya niat, berpikir positif dan eksekusi. Cukup hal tersebut. Tidak ada hal lain yang paling berarti ketika kita bermimpi selain melaksanakan mimpi tersebut. Begitupun dengan suatu permulaan. Maka langkah setelah memulai, anda harus terus menjaga – mengistiqomahkan niat agar terus berjalan dan menyelesaikan. Pikiran positif yang kita punya berpengaruh terhadap segala yang terjadi di hidup kita. Ketika anda lelah menjaga kebiasaan baik, yang dibutuhkan hanya meluruskan niat, berpikir positif tentang Tuhan, dan membayangkan hasil yang akan kita dapatkan.

Daripada berhenti di tengah jalan dan tidak mendapatkan hasil apapun dari usaha kita, kenapa tidak bersabar dan melihat hasil akhir yang akan kita dapatkan? Jadi setelah memulai, jangan lupa menyelesaikan seluruh kewajiban-kewajiban kita sebagai manusia, anak, kakak, saudara, tetangga, karyawan, boss, dan lain-lain.

Usaha tidak akan menghianati hasil bukan?  Bila sudah melaksanakan bagian kita, biarkan Tuhan melaksanakan bagian-Nya. 

Selamat memulai dan menyelesaikan. :D


No comments:

Post a Comment